Kamis, 13 Januari 2011

Menyusuri Sungai Bunut di Nanga Boyan (2)



























































Menyusuri Sungai Bunut di Nanga Boyan

MENDATA POTENSI I

Di sepanjang sungai ini banyak ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan asam kranji
Foto yang kita gunakan dari HP, makanya agak samar-samar.

Gambar 1. Pohon Asam kranji yang menjulang tinggi.









Gambar 2.Cara pemanenan yang di potong-potong rantingnya.















Gambar 3.

Cara pengambilan buah di petik satu-satu dari batang yang sudah dipotong.(Wah pak solihin sekarang jadi penyuluh asam kranji ya...)








Gambar 4.
Disini yang mengerjakan banyak dilakukan oleh ibu-ibu.













Gambar 5.
Pohon yang rantingnya sudah dipotong untuk diambil Buahnya.

Senin, 10 Januari 2011

Lika-Liku Usaha HHBK

Usaha HHBK di kota kabupaten(………) Kalimantan Barat.

Kami memulai usaha HHBK ini pada bulan oktober 2009. Setelah melakukan survey ternyata banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Kami pun mulai melengkapi persyaratan sesuai dengan prosedur. Langkah pertama kami datang ke desa yang memiliki potensi HHBK yang kami cari kemudian membuat perjanjian dengan warga dan kepala desa yang lokasinya jauh dari kota kabupaten (1 hari naik speedboat) dan menghabiskan biaya 600rb sekali berangkat/orang, bisa kita hitung kalau yang berangkat 4 orang pulang pergi berapa biaya yang dibutuhkan. Anyway, setelah selesai membuat surat perjanjian kerja sama itu kami segera memasukkannya ke kabupaten untuk di proses dan sungguh ternyata tanpa disangka-sangka membutuhkan waktu yang teramat sangat lama sekali bagi para pegawai kabupaten itu untuk memproses ijin kami, Bisa anda bayangkan betapa lelahnya kami dan para penduduk desa menunggu untuk bisa memulai usaha yang keuntungan materialnya tidak seberapa??mulai sekitar bulan Maret 2010 kami memasukkan berkas untuk diproses kenyataannya baru bisa keluar bulan Oktober 2010. Dengan berbagai alasan (yang lupa, yang ini, yang itu, yang aghhh… muak kami). Kita lanjutkan, setelah ijin kami keluar baru dimasukkan ke Dinas kehutanan kabupaten dan masalah lagi " harus FA-HHBK kabupaten,FA-HHBK penumpukan di gudang, Tenaga Teknis, tanda tangan pemungut, huhh juga malas mendengar mereka". Hanya mulut-mulut manis yang berbicara, tapi gak ada hasil buat pembangunan negara dan masyarakat (manusia begini dipelihara, mau dikemanakan negeri ini). Selama ini yang saya lihat dan rasakan, kalau ada tamu yang bermodal besar, para pegawai pemerintah ini bagai kucing (meong-meong-meong minta ikan asin), tapi kalau ada masyarakat lokal yang datang dan ingin maju dari hasil hutannya "maaf, kita lagi sibuk,banyak kerjaan,ahh susah ijinnya, berat lhooo pak, bahhh".Sungguh sangat muak kami dengan perilaku mereka. Sebenarnya apa salah negeri ini???Orangnya????atau masyarakatnya????.

Indonesia MISKIN?????dari siapa???pekerjaan siapa???

Minggu, 09 Januari 2011

Batu Kristal ( Natural Quartz Crystal )






Sedikit Riwayat
Ketika sedang melakukan survey di pedalaman kalimantan dalam berburu (mendata potensi) resin, secara tidak sengaja kami juga menemukan potensi yang lain, yaitu batu kristal (Quartz Crystal), maka kami berinisiatif untuk memasarkan barang ini, harapan kami dapat menjadi pekerjaan tambahan untuk masyarakat pedalama.
Berikut Jenis batu2 kristal sesuai yang saya lihat, tetapi foto2 saya comot dari artikel lain.



Cara Pemungutan Copal

TEKNIK PEMUNGUTAN / PENYADAPAN DAN PENGEMASAN COPAL

Kopal adalah getah padat ysng diperoleh dari pohon aghatis sp. Yang umumnya berwarna kuning bening atau kuning pucat.

  1. Nama lain : resin kopal, gum copal, damar daging, pepeda, manila kopal, loba. Damar minyak, damar madalu, bua, loba, dll.
  2. Kelompok bahan : resin
  3. Sumber penghasil : agathis alba Lamk; agathis dammara Warb;
  4. Daerah penghasil : Amerika selatan, Australia, Philipina, Kongo. Di Indonesia terdapat di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.
  5. Penggunaan : bahan cat, vernis, spiritus, perekat, bahan pelapis untuk tekstil, dll.
  6. Cara pengambilan :

Cara pertama yaitu diambil langsung dari pohon disebut kopal bua, jika diambil dari tanah dengan cara digali disebut bua coklat.

Cara kedua yaitu dengan penyadapan. Kopal yang diambil tidak lama setelah penyadapan disebut melengket, sedangkan bila dibiarkan lama pada pohon setelah penyadapan disebut Loba.

Pola penyadapan kopal yang terbaik adalah sadapn miring dengan periode pembaharuan luka yang optimal adalah 7 hari. Metode sayatan miring seperti gambar dibawah

Keterangan : panjang luka sayatan 1cm, diameter luka sayatan 20 cm dengan kemiringan 45o, jarak dari tanah minimal 50 cm.

Cara Pemungutan Damar


Damar.

Nama lain : Gum damar, resin damar, harsa, damar mata kucing, damar batu, dll.

  1. Kelompok bahan : Resin
  2. Sumber penghasil : Malaysia dan Philipina, Indonesia (Sumatera,Kalimantan, Sulawesi Selatan)
  3. Penggunaan : Untuk korek Api, kembang api, vernis, bahan cat, dll.
  4. Damar Mata Kucing dari shorea javanica.

Penyadapan yang baik dan direkomendasikan P3HH meliputi :

  1. Persiapan penyadapan : pembuatan mal sadap, mengubak kulit batang (20x20 cm) dan pemakuan mal sadap minimal.
  2. Jumlah lajur sadap : bentuk mata sadap segitiga sama sisi, sisi maksimum 15 cm, jarak mata sadap 20 cm.
  3. Jumlah deret mata sadap. Tidak boleh lebih dari 4 deret mata sadap. Deret sadap terbawah 35 cm diatas tanah. Antar mata sadap 40cm.
    1. Pembuatan mal sadap

Mengubak kulit batang dengan ukuran 20x20 cm

b. Dimensi Mata Sadap

Bentuk luka sadap adalah segitiga sama sisi.

c. Jumlah deret mata sadap

Deret mata sadap berjajar vertikal dengan jumlah deret tidak boleh dari 4 mata sadap

Damar mata kucing dibagi beberapa kualitas, pembagian ini hanya berdasarkan besar kecilnya butiran yaitu kualitas A, B, C, D, E.



Sabtu, 08 Januari 2011

Getah Jernang ( Dragon's Blood )










Jernang merupakan getah dari buah Daemonorops spp (biasanya D. draco), yakni semcam

rotan liar yang tumbuh di hutan. Karena itu produksinya tergantung pada musim buah jenis

rotan tersebut. Jernang berbuah di sepanjang tahun, akan tetapi musim besarnya berlangsung

antara bulan September-Oktober. Pada masa lalu, cukup banyak didapati buah-buah jernang

yang terbentuk di luar musimnya; akan tetapi sekarang telah jarang ditemukan, sejalan

dengan semakin jarangnya buah jernang ini diperoleh.

Jernang umumnya merupakan hasil hutan non-kayu ikutan, yakni diperoleh tatkala

mengerjakan atau mencari hasil hutan yang lain; umpamanya ketika membalok atau mencari

rotan. Pengambilan getah jernang secara khusu dan disengaja jarang dilakukan, karena

sangat mengandalkan keberuntungan. Bila kebetulan orang-orang itu mendapatkan buah

jernang yang lebat, buah-buah itu diambil dan langsung diolah

Getah Jernang merupakan hasil hutan bukan kayu sejenis rotan yang diambil dari kulit buah jernang untuk keperluan tertentu. Buahnya seperti buah rotan, bulat kecil-kecil berkumpul seoerti buah salak. Jernang merupakan tumbuhan merambat pada pepohonan di sekitarnya. Di dalam getah jernang mengandung senyawa dracoresen (11%), draco resinolanol (56 %), draco alban (2,5 %) sisanya asam benzoate dan asam bensolaktat. Getah jernang biasa digunakan sebagai campuran obat diare, disentri dan pembeku darah akibat luka, sebagai bahan baku pewarna porselen, pewarna marmer, bahan penyamakan kulit, bahan baku lipstick dan lain-lain



Getah yang baik dihasilkan oleh buah-buah yang setengah tua, berbentuk bulat telur agak

lonjong. Satu batang jernang yang sedang umurnya bisa menghasilkan buah 10 kg. Buahbuah

itu dipetik lalu dibawa ke pondok tempat bermalam di hutan. Untuk mendapatkan

getahnya, mula-mula dibuatkan orang anyaman rotan kecil yang disebut ambung lapek

(ambung ketupat). Buah-buah yang masih basah itu lalu dijejalkan ke dalamnya secukupnya

dan dipikul dengan kayu. Getah yang bewarna merah darah akan keluar mengalir di sela-sela

anyaman, dan ditampung dalam satu wadah yang dibuat dari upih palem-paleman. Pekerjaan

itu tidak membutuhkan waktu yang lama, buah sebanyak 10 kg itu biasanya diolah dalam

waktu sekitar 1 jam. Setelah itu getah yang tertampung dibiarkan mengering. Inilah yang

disebut dengan nama getah jernang. Untuk mendapatkan 1 kg getah jernang kira-kira

diperlukan buah sebanyak 7-8 kg.


TEKNIK PEMUNGUTAN / PENYADAPAN DAN PENGEMASAN JERNANG.

Jernang (dragon's blood) adalah resin yang merupakan hasil sekresi buah rotan jernang. Resin tersebut menempel dan menutupi bagian luar buah rotan, dimana untuk mendapatkannya diperlukan proses ekstrasi buah.

1. Nama lain : dragon's blood, jernang mundai, jernang beruang, getih warak, getih badak, dll.

2. Kelompok bahan : resin keras.

3. Sumber penghasil : Daemonorops draco BL. Termasuk Family Palmae. Jenis lainnya antara lain : D.draconcellus BECC ; D.propinquess BECC ; D.rubber BL ; D.sobut BECC ; D.micracantus BECC.

4. Daerah penghasil : semenanjung Malaysia , Sumatera, Kalimantan, dan sebagian di Jawa Barat.

5. Penggunaan : sebagai pewarna keramik, marmer, batu, kayu, kertas, dll. Selain itu juga digunakan sebagai obat-obatan seperti obat diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido) serta banyak yang lainnya.

Pemanenan buah jernang yang dilakukan dengan cara memanjat pohon yang berada di dekat tanaman jernang dengan bantuan galah untuk dapat menjangkau tandan buah jernang. Pemanenan dilakukan denagn hati-hati agar resin jernang tidak rontok dari buah rotan. Buah dipungut / dipanen adalah buah setengah tua (±3 bulan).

Cara untuk mendapatkan resin jernang dari buah rotan dilakukan dengan cara ekstrasi yang meliputi ekstraksi kering dan ekstrasi basah.

Ekstrasi kering (ditumbuk) pada umumnya digunakan oleh masyarakat untuk mendapatkan jernang. Buah rotan jernang setelah dipanen dilepaskan dari tandannya dan selanjutnya dimasukkan ke dalam keranjang rotan (ambung), lalu ditumbuk dengan beralaskan plastik. Buah rotan yang ditumbuk tersebut akan keluar resin jernangnya melalui sela-sela keranjang rotan.

Ekstarsi Basah : dengan menggunakan media air untuk mendapatkan resin jernang. Buah rotan jernang dimasukkan ke suatu wadah yang berisi air, selanjutnya ditumbuk dan diaduk-aduk. Resin jernang akan lepas dari buah rotan dan mengendap. Endapan tersebut dipisahkan dan selanjutnya disaring dengan menggunakan kain.

Cara ekstrasi basah dengan menggunakan pelarut organik (metanol, hexana, dll). Cara ini dilakukan dengan memasukkan buah rotan jernang ke dalam wadah yang berisi pelarut organik hingga resin yang menempel pada buah rotan bersih. Selanjutnya larutan diuapkan dengan soklet atau penyulingan sehingga tersisa jernang dalam wadah tersebut.

Jernang dikemas dalam bentuk gumpalan dengan berbagai macam bentuk yang dikemas dalam kantong plastik, kuat dan ditutup rapat, kemudian dimasukkan kedalam karung goni dan dijahit dengan kuat atau kardus. Setiap kemasan mempunyai berat maksimum 30 kg.

Detailnya bisa dilihat dalam kolom

Nomor sample resin

:

2

Macam resin

:

Jernang

Asal pohon

:

Buah Rotan ( Daemonorops Draco)

Nama Daerah

:

Kino , Jernang Manday, Jernang Beruang, Jernang Kuku, Getah Badak, Getah Warak.

Nama Latin

Daemonorops sp.

Asal Penyebarannya

Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu), Kalimantan Barat, Kalimantan Timur.

CIRI-CIRI KASAR

Warna

:

Merah Kecoklatan

Tekstur

:

Mengkilat

Kesan raba

:

Halus

Kekerasan

:

Lunak

Aroma

:

Wangi Lemah/ Lembut

Lainnya

:

Berbentuk serbuk (Bubuk)